Minggu, Oktober 12

XI IPA 4: SBLAS 'PA 'MPAT

Kelas XI IPA 4: Kelas tahun kedua ke-4 di SMAN 4 Medan jurusan IPA--atau kurkul2013 sekarang bilangnya MIA--yang berisikan 45 orang (7 orang mutasi dari kelas lain, 2 orang mutasi dari kota lain, sisanya pribumi--terlalu malas untuk ngitung, huwahahaha). Btw, pribumi di sini gue tulis karena mayoritas di XI IPA 4 adalah mantan anak-anak kesayangan Pak Rusdi atau X IPA 5 a.k.a. XELIMUT.

Kelas gue jauh dari kata 'rajin', 'pinter' ataupun 'mantap bruuhh'. Gue nggak tau juga sih sebenernya, soalnya rumput tetangga katanya lebih hijau. Kelas gue rada aneh dan gila tapi at least, kelas gue mayan seru dan kompak. Ya, gue bilang kayak gini karena menurut sudut pandang gue dan gue belum pernah ngerasain kelas-kelas lain. Intinya sih, tiap kelas punya cerita dan keseruannya masing-masing.

Kelas gue ini mempunyai anak-anak cowok yang tampang sekuriti mental helo kiti yang baru lahir. Salah satunya adalah Yanuar, remaja ajaib yang lebih cocok disebut anak kecil karena dia suka bikin orang kesel tapi ia juga bertemperamen tinggi jika diejek. Selain hobi marah-marah, ia juga hobi main 'LINE Let's Get Rich' sambil nyanyi lagu 'Terima Kasih Guruku' dengan lirik yang melenceng. Sebenernya, hampir semua anak cowok di kelas gue hobi banget sama LINE Let's Get Rich. Thareq bahkan sempet-sempetnya nunduk sambil jalan buat main tuh game pas lagi jalan mau ke kelas atau Yanuar yang sanggup-sanggupnya mainin itu pas lagi makan ataupun pas lampu lalu lintas sedang merah.

Oh iya nih, kemarin gue dan ke 7 temen gue--Alya, Nisa, Diva, Paksi, Firda, Yanuar, Aliffadel--berencana untuk membeli wallpaper roll untuk bagusin kelas tapi sebelum itu, kita sarapan dulu akhirnya di Lontong Gang. Seperti biasa, Yanuar makan lontong sambil nyenderin HPnya dengan botol Aqua, begitupula Paksi. Mereka berdua main Get Rich dan terjadilah percakapan seperti ini:

Paksi: Get Rich dah ada yang di bulan.
Yanuar: Iya, suka kali aku kalau udah ada lubang-lubang putih.
Paksi: (Menatap Yanuar dengan bingung) Ha? Item!
Yanuar: PUTIH LOH!
Paksi: ITEM!
Yanuar: BLACK--
Paksi: BLACK ITU ITEM! (Ngomong pake otot)
Lalu semuanya ketawa.
(Btw, sorry kalau salah. Gue sama sekali buta sama permainan yang sedang hits itu)

Anak-anak cowok di kelas gue juga hobi main kuda panjang saat sedang free time. Bukan anak kelas gue doang sih, tapi kayaknya seluruh anak cowok di sekolah gue deh, soalnya gue pernah liat mereka main kuda panjang di lapangan sekolah pas 17-an dan itu sampe panjaaaangggg banget. Aliffadel--anak mutasi dari kelas X IPA 3 aja kesenengan main kuda panjang, soalnya dulu dia waktu di kelas X IPA 3 cowoknya alim-alim rajin gitu sih.

#NP: The Script - For The First Time || Source: Ask.fm Saida/Luki/Ezra
Kemarin juga, ada semacam lomba kelas gitu yang katanya dinilai langsung sama Badan Lingkuangn Hidup. Jadi, mulai hari Jumatnya, sekolah gue semacam di-free-in dari belajar. Kayak murid-murid normal lainnya, kelas gue langsung hip-hip hura-hura gitu. Pas hari Jumatnya, gue, Alya, Firda, Nisa, Diva, dan Paksi, ditugaskan untuk membeli karpet plastik. Kenapa kita? Karena,
Gue: Bendahara.
Alya: Cina jago nawar.
Firda: Murid kepercayaan Bu Tumiar sekaligus preman kelas (Cowok aja takut ma doi).
Nisa: Males bersiin kelas.
Diva: Sama kayak yang di atas.
Paksi: Supir keluarga.

Berangkatlah kita berenam ke Pusat Pasar Medan (Alya bilangnya Sambu kalau Nisa bilangnya Sentral) setelah tawar-menawar di Petisah, Sikambing, dan Pajak Ikan ditolak (Btw, di Medan pajak means pasar). Kita berenam, misah. Gue, Alya, Firda, Nisa, dan Diva masuk ke dalam tuh pasar, sedangkan Paksi nyari pom bensin untuk ngisi bensin. Setelah dapet dengan harga yang jucok abies, kita berlima ngangkat tuh 2 gulungan karpet plastik yang ternyata BERAT BANGET WOIIII. 1 Gulungan besar yang bawa gue, Alya, Nisa, dan Diva, yang 1-nya lagi, Firda yang bawa. Sendiri. Mantav. Suhu Medan saat itu lagi panas-panasnya dan Paksi datengnya lama banget. Akhirnya kita berlima jadi manusia bakar.

Setelah Paksi dateng. Masalah baru akhirnya datang: Gimana cara masukin tuh 2 gulungan gede ke dalam sebiji kecil Ford Fiesta dengan isi yang banyak banget. Tadinya mau dibiarin dengan pintu belakang terbuka, tapi karena Pusat Pasar Medan jauhnya naujubilah, Paksi takut ada polisi jadinya kita paksain itu masuk dan berakhir:
Depan: Paksi (supir), Alya mangku Firda sambil megangin 2 gulungan itu di depan.
Belakang: Gue, Diva, Nisa (Bagian duduknya luas, kepalanya sengklek semua).


"Walau sempit, selfie dulu" -Firda Riana. Btw, guenya belakang lagi nge-peace. Paksi? Bodo amatlah, dia nyetir supaya kita selamat sentosa, kok.
Yasudahlah, segitu aja kayaknya cerita tentang kelas gue yang sangat amat biasa-biasa aja yang nggak memiliki kekuatan khusus itu.

Follow by Email