Jumat, Februari 21

Akhirnya!

Gue suka nulis tapi tulisan bikinan gue gak pernah jadi. Dan supaya tulisan gue 'jadi', gue post di blog supaya gue merasa berhutang! haha! Btw, ini cerita pertama gue yang gue post di dunia maya... Rencananya mau gue post di wattpad sih... tapi nanti! gue gak belum percaya diri nih! XD

Gemini- 1

Kata teman-temanku, kamu playboy. Tapi kata kamu, kamu hanya mencari cewek yang pas.
Aku senang, setidaknya aku pernah menjadi cewek yang kamu cintai walau rasa itu melebur terlalu cepat.
***
“KEIBO, bangun dong! Gue udah dimarahin papa nih!”
Dengan malas aku membuka mataku dan segera melihat ke arah jam weker yang tengah berdiri di atas meja sisi tempat tidur. Seperti biasa, dengan indah, jarum pendek yang berwarna merah itu masih terparkir di angka tujuh. Lalu pandanganku tertuju ke Alfa, kakak laki- lakiku. Aku melempar pandangan tersinis kepadanya.
“Berisik lo. Doraemon aja belom selesai shooting, lo udah main nyosor aja ke kamar gue.”
“Lo nggak inget? Olahraga pagi, nyuci piring!” Teriaknya, sambil membanting pintu kamarku.
Alfa, dia satu tahun lebih tua dariku dan sedang sangat bangga dengan gelar ‘mahasiswa’nya. Alfa adalah cowok terajin yang pernah aku temui. Setiap hari ia bangun lebih cepat dari jam wekerku. Kamarnya selalu rapi, aku curiga dengan ke-cowok-annya. Maksudku, tidak ada cowok yang pintar dalam membersihkan dan menata rumah, but the fact says: Kamarnya lebih rapi dari kamarku! Sangat lebih rapi dari kapal pecah yang merangkap jadi ruang tidurku. Dan kalau soal pelajaran uh... aku sangat benci mengatakannya, orangtuaku sangat bangga dengan prestasinya yang telah menduduki peringkat lima besar di bangku SMA selama tiga tahun berturut- turut. Kalau masalah tampang? Hmm... mungkin kalau aku bukanlah saudaranya, aku telah jatuh cinta kepadanya. Alfa terlalu perfect, itulah yang membuatku iri.
Dibanding dengan Alfa, Gemini Keira hanyalah gudang dari diri seorang Alfa. Aku hanyalah tempat menampung segala kekurangan Alfa. Yah, aku memang tidak bodoh- bodoh amat, buktinya kesenianku selalu mendapatkan nilai jauh di atas KKM dan aku sangat suka membuat cerita romansa remaja walau hanya berakhir di laptopku. Sesuai namaku, aku seorang geminian, dan aku lahir pada bulan Juni. Aku sangat tidak suka kalau dibanding- bandingkan dengan seseorang, seperti halnya papaku yang selalu membandingkanku dengan Alfa. Keluargaku memanggilku ‘Kei’ –kecuali Alfa, dia memanggilku ‘Keibo’–, sedangkan aku selalu memperkenalkan diri dengan nama depanku, Gemini.
Karena aku malas berdebat dengan Alfa, aku segera bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Setiap hari Minggu, aku selalu mendapat tugas untuk mencuci piring sehabis sarapan, padahal aku hanya menggunakan gelas saat sarapan.
***
Di dekat komplek rumahku, ada kafe kecil yang menurutku sangat nyaman. Setiap sore –tentu saja saat aku tidak sibuk–, aku selalu kesana. Selain karena dekat dari rumah dan bangunannya sangat bagus, aku bisa melihat dia. Ya dia, Davi. Teman sekelasku yang sangaaaat aku sukai. Well, menurutku dia tidak ganteng tapi dia memiliki wajah yang manis, baik, dan bukan anak yang berandalan, karena aku benci anak berandalan.
Tempat favoritku adalah di pojok dekat jendela. Dari tempat itu, aku bisa melihatnya dengan jelas. Davi selalu bermain dengan laptopnya di sini. Kalian pasti bingung kenapa aku tidak dekat dengannya padahal kami sekelas, kan? Ya, jawabannya mudah. Davi adalah cowok yang paling pendiam di kelas. Saking diamnya, kelasku sampai tidak menyadarinya saat dia tidak masuk sekolah, dia terlalu invisible di kelasku. Namun yang kutahu adalah, prestasinya menggunung dan piala yang dipajang di lemari sekolah sebagian adalah hasil jerih payahnya.
Sudah 3 tahun aku mengenalnya. Sebenarnya, tidak bisa dibilang kenal karena aku tidak benar- benar mengenalnya, maksudku –ah, kalian pasti mengerti maksudku, kan? Aku hanya mengetahui identitasnya dan hanya pernah sekali berbicara padanya. Ya, kejadian itu tersimpan rapi di otakku. Itu hanyalah kejadian yang sangat sederhana waktu aku masih SMP tepatnya kelas dua, saat aku tidak membawa kotak pensil dan aku meminjam pulpennya. Waktu itu aku memintanya, namun pandangannya tidak beralih dari komik bacaannya sambil mengatakan, “ambil aja di tas, kalau nggak salah, ada.” Aku segera mengambil tasnya dengan tidak sabar karena pada waktu itu, aku cukup kesal dengan ketidak sopanannya. Dan yang kudapatkan waktu itu adalah pick gitar dengan logo All Time Low. Dua hal yang ada di pikiranku: Dia adalah fans All Time Low dan ia hobi bermain gitar. Mulai saat itu aku sering memperhatikannya.
Saat aku mengikuti kegiatan MOS masuk SMA dulu, aku melihatnya berdiri di barisan ketiga dari belakang pada barisan kelompoknya. Dan pada saat itu, aku sangat senang mengetahui bahwa Davi masuk SMA yang sama denganku. Aku berasumsi, mungkin aku diberikan kesempatan untuk lebih dekat dengan Davi.
Sejauh ini yang kutahu tentang Davi tidaklah banyak. Dan Davi juga tidak terlalu mengekspos diri di sekolah maupun dunia maya. Mungkin ini terdengar egois, bahwa aku menyukai dirinya yang seperti itu, yang hanya aku yang mengetahuinya.
Ponselku bergetar beberapa kali. Kulihat layarnya dan yang menelpon adalah Alfa. Dengan malas aku menjawab teleponnya.
“Halo? Kenapa, Alf?”
            “Lo dimana?”
“Pacific Cafè. Pulangnya nebeng dong.”
“Sekarang aja ya? Urgent, nih.”
Tanpa membalasnya, Alfa mematikan sambungan teleponnya, tidak sopan. Kata ‘urgent’ pada mulut Alfa, berarti sebaliknya yaitu tidak penting- penting amat. Dia selalu begitu, mengatakan seolah- olah itu adalah sesuatu yang penting padahal supaya hanya ia bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Egois, bukan? Ya, itulah yang aku tidak sukai dari orang jenius sepertinya. Cepat- cepat aku menghabiskan strawberry shortcake yang kupesan sebagai teman di kafe .
Tak lama kemudian, Alfa datang dan aku langsung masuk ke mobilnya. Dia langsung tancap gas menuju ke suatu tempat. Pokoknya arahnya berbalik dari arah pulang ke rumah, jadi aku tahu kalau Alfa akan menyuruhku menemaninya ke suatu tempat.
“Bantuin cari kado buat Shilla, gebetan baru gue. Apaan kek, boneka atau apa aja yang menurut lo sweet.” Sergahnya cepat sebelum aku berniat untuk membuka mulutku untuk protes. Memberi hadiah untuk gebetan? Ew, menurutku itu seolah menyogok dia untuk menerima pengakuan cintanya kelak. Lagu Hung Up oleh Hot Chelle Rae mengalun pelan di mobil Alfa. Dengan cepat, Alfa membesarkan volume radionya. Dia memang penggemar musik rock semacam Hot Chelle Rae dan Arctic Monkey.
Dan akhirnya kami berdiri di depan Teddy House tepatnya di Senayan City. Aku menyetujui permintaan konyolnya karena ia berjanji akan mentraktirku menonton film, makan, membelikanku buku dan CD apa saja yang aku mau. See? Bahkan mungkin uang yang akan di keluarkan untukku bakal lebih banyak dari pada untuk kado tuan putrinya. Dalam kasus ini aku setuju kalau Alfa itu baik –atau bodoh?
Akhirnya Alfa setuju untuk membelikannya boneka beruang keluaran Teddy House dan setangkai mawar merah. Selesai sudah tugasku dan sekarang aku hanya tinggal meminta balasannya.
Saat aku duduk di salah satu kursi cafè & lounge XXI untuk menunggu filmnya dimulai dan menunggu Alfa yang sedang ke kamar mandi, aku melihat teman sekelasku di kelas 10, Halvo. Ya... tidak aneh sih melihat dirinya sedang nongkrong di sini, dia termasuk anak gaul di sekolah. Halvo tidak sendirian, ia bersama seorang perempuan yang jelas- jelas bukan anak sekolahku, karena aku tidak pernah melihatnya di sekolah –atau aku yang terlalu kuper sampai- sampai tidak mengenali anak sekolahanku? Entahlah.
Aku pernah membaca dari sebuah novel, katanya orang akan menyadari pandangan kita setelah lebih dari satu menit kita memerhatikannya di bagian tengkuknya. Ya, cukup perhatikan tengkukunya. Asumsi itu juga berlaku dengan hal bodoh yang baru saja  aku lakukan. Sekarang, pandanganku dan Halvo malah bertemu ditambah pandangan perempuan yang ia rangkul itu.
“Gemini!” Halvo melepas tangan kirinya yang merangkul pundak perempuan yang di sampingnya untuk menyapaku.
“Eh, Halvo? Ngapain lo?” Aku mengutuk diriku sendiri. Ya, aku sudah menyadari kalau pertanyaanku ini sungguh bodoh. Sedang apa dia di sini kalau tidak sedang menonton?
“Lagi nunggu Thor nih. Lo studio berapa?” Tanyanya. Tangan kirinya kembali merangkul pundak si perempuan yang dari tadi mencengkram baju Halvo.
Pandanganku tertuju pada perempuan itu. Dia cukup tinggi –setidaknya tidak lebih tinggi dari Halvo, memiliki badan dan kaki yang bagus, menurutku dia cocok menjadi model. “Tiga. Carrie,” jawabku seadanya. Aku tersenyum kecil ke arah si perempuan ini dan dia membalasnya. Tidak buruk juga.
“Oh, yowes dah, Gem. Gue duluan ya. Dah.”
Halvo akhirnya pergi tanpa mengenalkan perempuan yang bersamanya. Ya, aku juga tidak mengharapkannya.
Film horror memang menyenangkan, tetapi sangat tidak menyenangkan kalau kalian menikmatinya bersama Alfa. Aku selalu menutup mata dengan tanganku ketika bagian seramnya, dan Alfa akan berkata, “cupu lo, Keibo.” Dan popcorn milik Alfa selalu habis di pertengahan film, lalu dia akan meminta punyaku. Pokoknya ini terakhir kalinya aku menonton film horror berdua dengannya!
Gemini, lo udh plng?
Ini siapa?
Halvo.
Aku tercengang melihat layar ponselku. Halvo? Ngapain dia mengirim pesan kepadaku? Buru- buru kubalas pesannya, karena jam sudah menunjukkan pukul 11 dan aku sudah mulai mengantuk.
Baru aja nyampe. Knp vo?
Halvo tidak menjawab. Karena malas menunggu dan berpikir bahwa Halvo tidak akan membicarakan hal penting, aku segera tidur.
***
“Kemaren Halvo mau ngomong apa sama lo? Sampe- sampe dia marahin gue karena bales chat-nya lama banget.” Seru Delfi secara tiba- tiba saat bel istirahat baru saja berbunyi.
“Maksud, lo?” Tanyaku tidak mengerti. Lagi pula kenapa ia harus membahas Halvo, padahal ia tahu kalau akses sosialku dengan anak- anak lain tidak seluas dirinya.
“Iya, kemaren Halvo nanyain pin BB sama nomer lo sama gue. Halvo marah- marah karena gue lama balesnya. Gila emang tuh anak.”
Aku diam. Tadi pagi saat aku mengecek handphoneku, aku memang mendapati Halvo meng-invite BBMku dan aku langsung menerimanya, dia termasuk temanku, kan?
“Cuma nge-invite gue kok. Kenapa emangnya, Del?”
Delfi mengangguk kecil beberapa kali dan membentuk huruf ‘o’ pada mulutnya. Lalu kami diam beberapa saat. Delfi hanya memainkan manik gelang pada tangan kirinya dan aku tentu saja membaca novel terjemahan yang baru kubeli kemarin. Karena katanya Delfi bosan melihatku membaca novel, ia mengajakku untuk nongkrong di kantin.
Kantin memang selalu ramai saat istirahat pertama, namun kami selalu mendapat tempat karena biasanya anak- anak lain selalu membeli dengan cara take away. Terkadang, aku bosan dengan jajanan di kantin, dan lidahku tidak menyukai pedas. Tolong digaris bawahi, tidak menyukainya bukan berarti aku tidak sanggup memakannya, sungguh. Akhirnya, aku hanya memesan lemon tea dan Delfi memesan nasi goreng.
“Gem, Del, gue join, ya? Males sendiri nih... jomblo sih.”
Aku menoleh ke sumber suara. Halvo. Dia cengengesan sebentar lalu menarik kursi di depanku.
“Lo berdua, pada mesen apa?” Lanjutnya sambil melihatku dan Delfi secara bergantian.
“Baru aja mau balik...” Suaraku merendah setelah aku melihat Davi sedang duduk di kursi pojok bersama teman- temannya. Pandanganku jatuh padanya, pasti. Halvo mengikuti arah mataku, begitulah yang terlihat dari ekor mataku. Aku kembali menatap es batu pada gelas lemon tea yang ku pesan tadi. “Eh, gue baliknya bentaran lagi deh.”
“Bagus,” Halvo menyunggingkan senyumnya.
“Yah, lo masih mau di sini, Gem? Gue balik ya, baru inget nih, fisika gue belum selesai. Bye, Vo!” Delfi berdiri dan melambaikan tangannya.
Aku ikut berdiri, namun tangan Halvo menghentikanku. “Lo disini aja.”
Aku diam. Halvo juga, tetapi matanya menatap lurus ke mataku. Awkward. Apa yang harus aku lakukan?
“Ah, drama abis lo berdua. Gue balik ya, bye
Delfi meninggalkan kami berdua. Sebenarnya, aku bisa bertingkah biasa- biasa saja, kalau Halvo tidak menahanku seperti tadi. Mungkin, kejadian tadi seharusnya tidak membuat orang tercengang seperti yang aku lakukan. Aku sangat payah dalam menghadapi cowok, kecuali keluargaku. Aku bahkan tidak pernah membayangkan kalau suatu saat ada cowok yang menyatakan perasaannya kepadaku. Walau aku suka Davi, aku tidak yakin kalau perasaan itu bisa disebut cinta. Tapi mungkin, apa ya... mungkin aku hanya suka melihatnya, atau... entahlah, aku juga tidak begitu mengerti.
Dari tadi, aku hanya melihat Halvo makan. Handphoneku lowbat, jadi aku tidak bisa berpura- pura sedang memainkannya. Halvo butuh waktu yang cukup lama untuk menghabiskan makanannya dan Halvo menyedot habis minumannya setelah makanannya habis.
“Kemaren ke Senci sama siapa, Gem?” Tanya Halvo setelah ia meminum teh botolnya sampai habis.
“Alfa.”
Halvo terdiam menghentikan kegiatannya –tadinya ia sedang menggigiti sedotan–. “Alfa? Alfa Damian?” Tanyanya dengan sedikit... hati- hati?
Aku menganggukkan kepalaku beberapa kali.
“Lo kenal?”
“Kakak gue.”
Halvo terdiam. Namun suaranya terdengar kembali normal dan dia menghela nafas panjang. “Kirain...”
“Kirain?”
“Eh, By the way, lo... taken?
Aku menggelengkan kepalaku. Well, biar kujelaskan sedikit. Aku baru ingat, kalau Halvo dan Alfa cukup dekat karena ya kalian tahu kan... mereka berdua sama- sama terkenal di sekolah. Dan tongkrongan mereka juga bareng. Intinya sekarang, aku sedang mengobrol dengan sahabat kakakku.
Bel menandakan istirahat berakhir baru saja berbunyi. Aku dan Halvo berdiri dan bersiap- siap keluar dari rombongan murid- murid yang menyesakkan ini.
“Gue nggak nyangka Alfa yang pecicilan kayak gitu, punya adek se... kalem lo,” kata Halvo tiba- tiba sebelum kami berpisah di lorong pemisah antara lorong IPA dan IPS.
Mungkin itu bukan pujian. Tapi entah mengapa aku sedikit salah tingkah.
Tadi apa katanya? Kalem? Well, dia akan menarik ucapannya ketika melihat Keira, bukan Gemini.
***
Entah aku hanya perasaanku saja atau bagaimana, Halvo jadi sering main ke rumahku. Tentu saja ia kesini untuk bermain bersama Alfa. Malah sebelumnya, Halvo tidak pernah ke sini, sepertinya. Dan Alfa juga jarang membawa temannya ke rumah. Seharusnya, aku tidak harus terlalu memikirkan. Halvo ke sini untuk bertemu Alfa, bukan untukku. Dan aku juga tidak mengharapkan apa- apa.
Aku membuka pintu kamarku setelah seseorang mengetuknya beberapa kali. Dan yang ku dapati di sana ialah, Alfa. Dengan hadiah di belakangnya, Halvo. Kaget? Jelas. Karena sekarang aku hanya memakai kaos dan celana pendek rumahan.
Halvo tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya, lalu melihat ke belakangku, novel- novelku bertebaran di lantai dan kamarku yang seperti kapal pecah bisa dilihat dengan jelas dari ambang pintu. Aku memberikan isyarat untuk menungguku, lalu aku segera menutup pintu kamarku.
Kami bermain monopoli sampai sore. Alfa yang mencetuskan ide ini, katanya cuma permainan ini yang cocok dimainkan bersamaku. Saat ini, di mataku Halvo tidak seperti Halvo di sekolah.
Lalu sorenya, aku mengantar Halvo sampai depan pintu sendiri karena Alfa mendadak tidur saat permainan masih setengah jalan.
Pandanganku terhadap Halvo telah berubah. Setidaknya, Halvo bukan tipe orang yang suka memilih- milih teman. Tapi aku tidak tahu, Halvo mau main bersamaku karena aku adiknya Alfa atau bagaimana, namun aku tidak mau berprasangka buruk terhadapnya. Halvo adalah orang yang ramah.
“Makasih ya, Gem. Lo kalau di rumah beda banget. Lebih... ehm... manis,” ujarnya sebelum ia menaiki motornya yang gede.
Tenang Gemini Keira, jangan biarkan mukamu memerah. Halvo hanya memujimu sedikit karena Gemini sangat berbeda dengan Keira.
“Sama- sama. Sorry banget, Alfa tiba- tiba tidur. Dia emang kebo banget,” lalu aku hanya tertawa mendengar pujiannya. Karena tidak enak, aku kembali membuka mulutku. “thanks, Vo.”
Halvo menggaruk tengkuknya dan tertawa garing, lalu ia menaiki motornya. “Duluan, Gem,” pamitnya sambil melambaikan tangannya.

Senin, Februari 10

Selamat, Kak Nerissa!

Kakak sepupu gue yang dari nyokap baru aja married dan besok doi mau pindah ke Jogja sama suaminya. Nikahnya tanggal 7 Februari kemarin dan pestanya tanggal 8 di rumah nenek gue. Pestanya sih make adat keluarga nyokap, Mandailing dan pas menjelang malam menggunakan adat si cowok, Jepang. Ya, kakak sepupu gue nikah dengan orang Jepang. Nope, bukan Jepang asli, tapi dia orang batak yang mamahnya Jepang. Gue sih cuma 1 jam-an di pestanya karena gue harus menghadiri teater yang dimainkan oleh kelompok teater sekolah gue, Enceng Gondok atau EG.

Barusan gue pulang dari acara makan- makan keluarga besar di rumah nenek gue. Acaranya sih dibuat untuk mengenalkan keluarga nyokap --yang besar, kepada Bang Ibnu --suami kakak sepupu gue. Keluarga gue memang sangat besar dan sangat amat... random. Bisa gue mempunyai tante yang umurnya sama kayak gue, kak Nerissa --sepupu gue yang baru merit, bisa mempunyai om yang masih lajang, dan keponakan kak Nerissa bisa mempunyai tante seumurannya. Super sekali. Atau jangan- jangan itu hal yang wajar? Jadinya gue memanggil tante gue yang SMA ini dengan menyebut namanya dan memanggil kakaknya dengan memanggil 'tante'. Dan gue suka bingung harus manggil tante gue dengan sebutan 'tante' atau 'kak.'

Tante gue akhirnya melepas anak sulungnya sambil menangis, tadi. Besok mereka mau ramai- ramai mengantar kak Nerissa ke Bandara Kualanamu, nyokap gue juga ikut. Gue sedikit sedih sih mendengar om gue mengatakan, "Padahal dulu ayah (beliau dipanggil ayah) yang nganter-jemput Nerissa kalau sekolah, sekarang udah mau pergi aja. Sedih sih, tapi ayah cuma bisa bilang 'selamat jalan ya, Ner'." Pikiran gue kembali ke masa kecil. Padahal rasanya baru kemarin kita bareng- bareng nonton Tom & Jerry dan ketawa- ketawa di saat pendengaran kakek gue berkurang sehingga kita harus berteriak- teriak kalau ingin berbicara dengan beliau. Sekarang, kak Nerissa udah punya suami aja dan rasanya gue benar- benar kangen dengan masa kecil gue di saat gue mudik ke Medan. Gak terasa, mungkin bentar lagi kakak sepupu gue juga akan menyusul, lalu beberapa tahun yang lama kakak gue, lalu gue, lalu sepupu gue, dan adik gue. Rasanya semuanya menjadi jauh. Gue ingin selamanya menjadi anak kecil dan selalu bermain. Dan yang gue pikirkan saat ini: Nyokap gue juga ngerasain kayak gini juga ya, dulu?

Ya, tapi gue seneng kok, akhirnya kak Nerissa dan bang Ibnu menikah setelah 3++tahun pacaran! Kak Nerissa dan bang Ibnu lahir di tempat yang sama, cuma selang 3/4 hari! Dan sekolah di SMP yang sama tapi tidak saling mengenal. Lalu, di saat kuliah, kak Nerissa bertemu dengan bang Ibnu lalu pacaran. Kemarin, 7 Februari mereka menikah. Jodoh emang gak kemana.

Selamat ya, kak Ner dan bang Ibnu, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah!

Follow by Email